Jumat, Februari 25, 2011

Penalaran Deduktif

Pada Artikel sebelumnya saya telah membahas Penalaran Induktif dan pada saat ini saya akan membahas tentang Penalaran Deduktif. Deduksi berasal dari kata de dan ducere yang berarti proses menarik kesimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum. Perihal tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka deduksi merupakan proses berpikir  dari pengetahuan universal ke singular atau individual.

 Penalaran deduktif adalah suatu cara berfikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.

Contoh penalaran deduktif :
Semua makhluk hidup pasti butuh oksigen (premis mayor )
Tumbuhan adalah makhluk hidup (premis minor)
Tumbuhan pasti butuh oksigen (kesimpulan)

Setiap penalaran deduktif pasti tergantung pada kebenaran premis - premisnya. Jika premisnya salah maka kesimpulan yang di hasilkan pasti salah.

Terdapat 2 macam corak berfikir Penalaran Deduktif , yaitu : 
  • Silogisme
  • Entimen

Silogisme
Silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan, dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama, dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga, yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya. 

Silogisme dapat direpresentasikan ke dalam bentuk aturan JIKA...MAKA... (IF...THEN...), contoh :
premis 1 : saya belajar, saya lulus ujian
premis 2 :saya belajar
konklusi : saya lulus ujian

Secara singkat silogisme dapat dituliskan : Jika A=B dan B=C Maka A=C

Premis dan konklusi didefinisikan sebagai statemen yang pasti dari empat bentuk berikut:
-------------------------------------------------------------------------------------
Bentuk Skema Arti
-------------------------------------------------------------------------------------
A Semua S adalah P Universal Affirmative
E Tidak S adalah P Universal Negative
I Beberapa S adalah P Particular Affirmative
O Beberapa S bukan P Particular Negative
-------------------------------------------------------------------------------------
Subjek dari konklusi S disebut bagian minor bila predikat konklusi P adalah bagian mayor.
Contoh:
premis mayor : Semua M adalah P
premis minor : Semua S adalah M
konklusi : Semua S adalah P
Silogisme di atas adalah bentuk standar karena premis mayor dan minor sudah diketahui.

Macam - macam silogisme : 
  • Silogisme Katagorial
  • Silogisme Hipotetis
  • Silogisme Disjungtif

a. Silogisme kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)

Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Contohnya : 
Premis Mayor : Semua mahasiswa mempunyai ijazah SMA
Premis Minor : Nadira tidak memiliki ijazah SMA
Kesimpulan : Nadira bukan mahasiswa

Hukum-hukum Silogisme Katagorik
*Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partirkular juga.  
*Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga. 

1) Dari dua premis yang sama-sama negatit, tidak mendapat  kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai ya hubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif.

2) Paling tidak salah satu dari term penengah haru: (mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak ten menghasilkan kesimpulan yang salah.

3) Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah.

4) Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna mda kesimpulan menjadi lain.

5) Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah ( middle term ), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term tidak bisa diturunkan komklsinya.


 b.Silogisme Hipotesis
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga menolak berarti konsekuen.

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian anteseden.
2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuen..
3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari anteseden.
4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuen.
Hukum-hukum Silogisme Hipotetik
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan ‘kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen .engan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:
1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan
berikut:
Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi
Nah, peperangan terjadi.
Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana)
Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya
Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi
Nah, peperangan terjadi.
Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah)
Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain.
c. Silogisme Disjungtif
Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor
 Terdapat 2 macam silogisme disjungtif, yaitu :
1. Silogisme Disjungtif dalam arti sempit, dan
2. Silogisme Disjungtif dalam arti luas

Entimen 
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh Entimen :
1.         Dia menerima ciuman pertama kali karena dia telah berpacaran.
2.         Anda telah menerima ciuman saat berpacaran, karena itu anda berciuman.

Daftar pustaka : 
http://dwi-septy21.blogspot.com/2011/02/penalaran-deduktif.html
http://fikarzone.wordpress.com/2011/02/12/penjelasan-penalaran-deduktif/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar